03 5 / 2012

Saat perpisahan kala itu sudah dekat, banyak sekali foto yang memenuhi memori hardisk masing-masing.

Saat rapat untuk penutupan, Burhan mengaminkan ide dari kawan-kawan yang ada saat rapat itu untuk membuat suatu video perpisahan. Dimana berisi Kesan, Kenangan, dan Pesan bagi anak-anak Nagrak yang satu dalam KKNM ini.

Ini adalah saat jalan-jalan ke perbatasan desa cibitung.

Saat yang berharga itu tidak bisa saya lewatkan untuk diabadikan menjadi sebuah film. Dan memang, sudah diceritakan dalam postingan sebelumnya. FILM tersebut BELUM SELESAI. Adegan terakhir dimana kami menertawai Riri yang curhat tinggi dia sama seperti anak kecil. Itu hal klimaks yang sangat lucu sekali. Tetapi sebenarnya inilah ending terakhir yang ingin saya buat.

Sooo sweeett

25 4 / 2012

Bagian pertama dari sepotong film dokumenter KKN saya, setahun lebih yang lalu
Opening dari film yang saya buat dengan bantuan Irvan dan Alvian.
Ini disebut “Bagian Pertama” berisi tentang kegiatan kami selama KKN
Program-program yang ada

Tapi ini sih cuman pas minggu pertama doank, cuman sepotong. Komplitnya durasi 30 Menit.
Film dokumenter ini selain berisi foto juga video, yang sebagian ada di awal film ini. Saat secara candid, Genta merekam aksi kita sebelum difoto untuk kenang-kenangan desa.

Sisanya di akhir film adalah komentar anak-anak
Rencananya akan dibuat RE-MAKE karena semua flim dan dokumentasi belum lengkap dimasukkan semua saat itu. Maklum, deadline.

Dulu film ini menjadi bagian terakhir saat malam permisahan di rumah II
Kami semua berkumpul malam hari untuk terakhir kalinya nonton film ini dan evaluasi akhir sambil peluk-pelukan dengan berlinang air mata sebelum besok pagi naik bus chateran kembali ke kota Bandung.

Inilah yang membuat kami sangat terkesan dengan film ini. Ending yang bagus bagi KKN.

20 4 / 2012

Sabtu, 15 Januari 2011, Jam 2 Dini Hari

                Antara masih mengantuk dan sadar, aku bangun dari berbaring

 ‘Gua harus sadar!! Gua harus sadar!!’ ucapku berulang dalam hati ketika aku berdiri. Berdiri membantuku untuk benar-benar bangun, tak sanggup aku memikirkan bayangan apa yang terlihat jika pikiranku masih melayang-layang. Kelopak mataku harus benar-benar terbuka. Rumah yang asing ini membuatku was-was. Aku tidak bisa bangun dan berdiam di dalam rumah ini.

Bagaimana bila ada suara perabotan terjatuh atau bergerak? Masalahnya ialah tidak ada perabotan apapun didalam rumah ini. Bayangkan bila itu sampai terjadi!

Masih dalam kegelapan, aku berpikir bagaimana melalui malam ini. Akhirnya terpikirkan olehku untuk pergi keluar saja. Di luar rasanya terlihat lebih aman dibanding rumah ini. Aku bisa jalan-jalan di jalan raya didepan. Pokoknya diluar.

Akhirnya dengan langkah pelan, aku melewati kawanan domba yang tertidur. Berhati-hati memperhatikan langkah untuk tidak menginjak tangan siapapun. Ah! Ide ‘tidur bareng’ yang sangat tidak berhasil. Tidur berkawanan seperti malah membuatku merasa lebih takut lagi berada di ruangan luas. Apalagi udara bisa dingin menusuk diatas badan kami yang berselimut tipis. Kecuali aku yang sudah membawa selimut orange tebal kesayanganku. Persiapanku benar kali ini untuk membawa selimut tebal, sepanas apapun namun bila berada di tempat asing akan sangat mengerikan. Selimut ini membuatku terlindung dari serangan boogieman yang tidak dapat diantisipasi.

Aku berhasil melewati semua tanpa menginjak siapapun, lalu aku berjalan keluar menuju pintu depan.

Yakinkah aku dengan hal ini? Diluar sana mungkin saja lebih seram. Tak apalah! Diluar aku bisa berlari, jika disini mau lari kemana!?’ Otakku beradu argumen disaat-saat mencekam. Dengan menelan bulat-bulat keberanianku, aku putar kunci dan membuka pintu.

Akhirnya udara bebas! Aku mengenakan sarung dan menyelimuti diriku sambil berjalan keluar. Ku tutup pintu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Waktu masih pukul 2, waktu begadang yang akan menjadi sangat lama.

Ku berjalan melewati gang sempit yang menjadi satu-satunya akses yang cepat dari rumah menuju jalan raya. Sebenarnya jalan raya tidak terlalu jauh. Rumah kami hanya berada dibelakang polsek yang berhadapan dengan jalan raya. Cuman nyebrang satu bangunan saja melalui gang kecil itu. Aku tiba dijalan raya dan melihat kalau lampu di polsek masih menyala terang. Mungkin saja ada polisi yang berjaga. Tentu pelayanan mereka sigap 24 jam bukan? Aku sedikit merasa tenang.

Aku melihat sesosok pria yang berdiri menghadap jalan, aku tidak berpikiran macam-macam dan segera mengetahui bahwa dia benar-benar hidup dan nyata. Kisah yang ada di cerita-cerita seram yang sering kudengar itu lebih kepada karena mata mereka masih mengantuk atau mengawang-awang, jadi aku tidak punya kecurigaan akan sosok itu dan segera berdiri walau agak jauh darinya dan melihat jalanan. Pikiranku menerawang sambil melihat sudut jalan raya ini. Menengok ke kiri, aku melihat jalan yang menuju Desa Buah Dua yang gelap dan aku tengok ke kanan ialah jalan yang membawa kami dari Bandung.

‘Di situlah Bandung’ pikirku. Tempat yang penuh sesak dengan kehidupan, urusan kampus, belajar, dan manusia-manusia pintar yang berkompetisi sambil menuntut ilmu, seketika aku merasa sangat kesepian namun merasa nyaman dengan pelarianku datang kesini. Untuk inilah perjalananku! Menjauh dari hal itu semua.

“Gak bisa tidur ya?” sapaannya memecah obrolan kami. Beliau kupikir sosok yang masih muda, bayangan yang menutupi wajahnya menyembunyikan raut muka bapak itu sebagian.

“Yah!” jawabku segera berbahasa Indonesia, aku tidak bisa melanjutkannya dengan bahasa Sunda. Aku menyapa balik sambil menarik kain sarungku lebih dalam untuk menyelimuti tubuhku. Angin malam sebenarnya tidak ada yang lewat, bahkan udara terasa berhenti disini. Aku sangat ingin menantikan hembusan angin.

“Disini gak ada angin Pak?”

“Oh, kan deket ama laut De, kesana itu udah daerah Cirebon.” Ujarnya seraya menunjuk jalan menuju Desa Buah Dua “Nembus kesana itu Cirebon De..” Oh! pantas saja udaranya sedikit hangat disini walau sudah dini hari.

“Dari mana Dek?” tanyanya berbasa-basi.

“Dari Unpad Pak”

“Oh Unpad Ya?”

“Iya Pak, Padjadjaran..”

Kami ngobrol sejenak diantara malam yang sepi itu. Beliau lebih banyak bercerita daripada aku. Sementara aku hanya diam mengangguk dan tersenyum berusaha menjadi tamu yang ramah kepada tuan rumah. Sesekali aku bertanya tentang keamanan desa, beliau berkata jarang sekali ada kasus ditempat terpencil seperti ini. Ia menunjuk sebuah warung di halaman polsek yang bisa kami kunjungi, akhirnya aku tahu letak warung didekat rumah. Aku melihat rumah didepanku dan sebuah halaman disampingnya, beliau berkata akan ada minimarket disana. Kehidupan di desa ini nanti tidak akan sama lagi. (Tahun 2012 ini Farez bercerita bahwa minimarket itu sudah dibangun dan beroperasi. Aku merasa khawatir dengan kelangsungan warung-warung rumahan yang biasa kudatangi ketika aku KKN di Desa Nagrak)

Kami kembali dalam jeda, dan aku menatap langit malam. Bintang-bintang disini terlihat terang, walau tidak secemerlang yang aku bayangkan tetapi nuansanya masih tetap indah.

“Disini bintangnya terang ya Pak?” ujarku berguman sendiri “Di Bandung juga suka melihat bintang seperti ini”

Kesukaanku saat malam hari ialah melihat langit malam, bila ada bintang-bintang maka aku akan lupa dengan jalanan yang aku pijak. Mataku akan menyusuri tiap bintang dan mencoba merangkaikannya sambil menebak-nebak sebuah rasi. Apakah itu rasi bintang biduk? Rasi ikan pari? Sabuk orion? Beruang besar? Mana Jupiter, Mars dan Saturnus? Melihat bintang merupakan mesin waktu. Bintang yang ada di langit sekarang ialah masa lalu. Sebuah dimensi yang berbeda dimana keseluruhan waktu berkumpul dan muncul pada waktu yang sama. Ada yang berasal dari 8 tahun cahaya yang lalu, 100 tahun cahaya, seratus milyar, triliunan, jutaan tahun kejadian dari masa lalu menjadi satu peta. Itulah yang membuatku tak habis terkesima dan tak jemu memandanginya.

Aku memohon diriku pada pak polisi baya itu untuk duduk sejenak memisahkan diri pada sebuah dinding semen yang berbentuk kursi lalu mencoba menikmati kesunyian yang ada. Merenung dan memutarbalik semua kenangan dalam ingatan kepala. Semua hal yang telah kulalui selama 2 setengah tahun ini.

Aku terdiam menikmati kebosanan, dalam detik-detik yang bergerak lambat aku mengingatkan diriku untuk tidak memohon malam ini berlalu dengan cepat. Toh waktu akan berlalu juga, malam akan berganti fajar dan matahari akan bersinar juga. ‘Janganlah memohon malam ini berlalu, diam saja’ Kita pasti akan menemui hal itu pada titik akhirnya. Tak akan malam selamanya.

Tak terasa adzan pun berkumandang, seorang-dua orang orang tua berjalan melewati kami menuju masjid yang berada sebelah polsek sesudah GOR. Rumah kami begitu strategis, didepannya ada polsek, lalu GOR dan masjid, ditambah dengan kantor desanya.

Aku ikut berjalan menuju masjid dan bersiap untuk shalat shubuh. Berwudhu dengan air yang dingin dan menyegarkan. Suasana desa yang damai dan penuh ketentraman, diliputi suasana yang islami menuju masjid untuk shalat shubuh. Aku sudah tidak takut lagi.

Selesai shalat, aku kembali ke rumah. Mencoba kembali tidur dibawah selimut orange. Ayat terbangun dan bertanya tentang waktu shalat. Aku bilang ini saatnya shalat shubuh, dia segera ke kamar mandi dan aku kembali memupuk bantalan-bantalan mimpi dikepalaku.

Pagi Harinya…

Matahari sudah meninggi, diantara Hakim dan Alvian yang masih enggan untuk bangun, aku bersiap-siap. Inilah kali pertama aku menyadari bahwa orang-roang selain aku memang sangat nikmat bangun saat sinar sudah menerpa wajahnya. Dikeluargaku, sangat dilarang bangun taklaka matahari sudah bersinar, disini seperti aku bisa melihat kebiasaan lain selain di rumahku sendiri.

Ketukan pintu kamar mandi menjadi nyanyian di pagi hari. Aku tidak mandi, sungguh. Antriannya membuatku enggan untuk ikut-ikutan. Akhirnya aku tetap bertahan dengan bajuku yang kemarin. Hahaha… aku berpikir bahwa untuk menghemat kerjaku dalam mencuci pakaian, alangkah bijaksananya untuk kita berhemat dalam berpakaian.

“Kopi?” Genta menawariku menikmati secangkir kopi panas.

Dia bersemangat menawarkan kopi pada masing-masing kami anggota rumah yang lain. Aku tersenyum membalas tawarannya. Secangkir kehangatan untuk memulai hari baru disebuah desa. Aku keluar, melihat-lihat lembaran buku Pink yang akan kuisi, menganalisa bahannya yang akan aku cari nanti didesa ini. Ayat mulai mengeluarkan kamera digitalnya dan memotret kami semua. Dari sinilah aku mulai asik ikut memotret, kamera ayat berwarna hijau muda menarik perhatianku untuk mengabadikan saat-saat sengsara kami di hari pertama KKN.

“Hahahaha! Seperti kawasan pengungsian warga merapi!” celetukku melihat foto-foto yang kujepret sendiri.

Memang dari foto yang kubuat, tersirat bagaimana sengsaranya hari kami dan betapa suramnya sisa 29 malam mendatang. Berteman karpet dan berdesakan dalam satu lantai.

Lihatlah wajah Erfi begitu yang sengsara dengan Salman, polos.

Galih menjemput kami untuk segera ke rumah satu. Kami segera beranjak kesana. Dalam perjalanan aku lebih banyak diam dan mendengarkan celetukan Genta dan Galih, mencoba membaca mereka yang berada disekelilingku.

Kami berfoto bersama didepan motor yang sudah sedia untuk keperluan operasional. Sebenarnya saya tidak tahu-menahu darimana motor ini datang. Siapa yang meminjamkan dan berapa harga yang kami harus bayar untuk menyewanya selama 1 Bulan ini. Tetapi kisarannya mungkin antara 300-500 ribu.

Motor matic ini akan menemani hari0hari kami berkeliling, entah siapa yang akan memakainya. Apakah kami memakainya bergiliran atau bisakah kami memakainya untuk bersenang-senang nanti?? hehe

Ini saat Hadiman datang, well… saya belum mengenalnya waktu itu hehehe. Saya hanya menganggapnya ‘senior’ yang harus dijaga jaraknya. Jangan sampai ia memperlihatkan kesangarannya sebagaimana dia mengospek anak-anak maba. Tetapi cerita anak-anak, Hadiman datang pagi-pagi dan tahukah pertanyaan apa yang pertama kali dia tanyakan?

"Dimana kamar mandinya?"

Matahari bersinar hangat memantul dikaca-kaca dan jendela, serta lantai keramik yang kami duduki di teras depan. Rumah satu begitu sibuk dan ramai. Salman dan Alvian memulai shift perdana mencuci piring. Sementara yang lain mondar-mandir mempersiapkan sesuatu.

Untunglah, semua sudah kebagian shift, thanks to cewek-cewek yang cuman berempat ini. Jumlah mereka begitu kontras dengan kami. Nuansanya jadi tidak heterogen, rumah menjadi lebih maskulin dan jarang suara cempreng. Namun lihatlah yang satu ini. Satu orang lagi yang baru aku kenal karena jabatannya sangat penting, beliaulah ibu negara sekaligus sekretaris koordes.

Saat aku mulai memperhatikan cewek-cewek yang akan menjadi teman selama KKN ini. Ada si cantik model Luna Maya bernama Nuri Mariska yang dipanggil Noi. Aduh sayang! burung nuri yang cantik ini diberi panggilan yang ndeso. Noi. Tapi begitulah dia minta disapa. Yang lain aku tidak begitu kenal dan lebih cuek dan sungkan untuk berkenalan. Aku tidak mau tebar pesona dan sok aktif buat menyalami mereka dan mencoba mengingat nama mereka karena mengingat nama bagiku sulit. Sebulan ini waktu yang cukup untuk mengingatnya dibelakang kepalaku.

“Ih… aku gak mau mandi disini ah! Ada ikannya…” dia memulai heboh pagi hari dengan apa yang dia temukan di bak mandi.

Seekor ikan komet, satu family dengan ikan mas namun dengan sirip yang lebih panjang terurai mirip kain sutra. Untuk menghilangkan jentik nyamuk, memang cara alami seperti ini biasa dilakukan dan efektif sekaligus ramah lingkungan. Namun entah apa yang terjadi bila aku menyikat gigi dan berkumur-kumur dengan air tersebut. Serpihan tokainya bisa saja menyapu gigiku. Hehehe! Geli meskipun menjijikan.

Gita menutupi ventilasi kamar mandi dengan kalender, begitu pula dengan pintu kamar cewek. Privasi para kanjeng puteri ini begitu dijaga oleh kami para laki-laki. Walau sebenarnya aku awalnya berpikir bahwa untuk melakukan hal mesum itu tak pantas dilakukan oleh mahasiswa, apakah mereka begitu rendahnya sehingga perlu dicegah dengan menutupi celah-celah pintu dan ventilasi? Tapi aku abaikan saja pikiran itu dan dengan wajah tanpa dosa dan inisiatif membantu, aku duduk cuek memperhatikan mereka yang berkeringat menaiki bangku dan menempelkan kalender usang itu dengan selotip.

Selesai membereskan ventilasi, mereka berkumpul didepan teras dan bercengkrama. Kebanyakan yang kudengar soal bola, kawanan tersebut sangat menyayangkan KKN bertepatan dengan liga sepak bola. Mereka memprediksi kemenangan, suindulan, pelanggaran, dan histori statistik masing-masing kesebelasan. Aku duduk di bibir pintu dan mendengarkan dalam diam sambil sesekali mengalihkan perhatian dengan berpura-pura membaca sms atau memencet-mencet keypad. ‘I have no idea what I am doing’


Sebenarnya aku gak sadar kalau mereka semua berkumpul didepan teras untuk menunggu makanan tiba, saat makanan datang mulailah mereka berpencar dan menuju ruangan tengah.

Makanan apa yang tersaji?

Sangat asing sekali, namanya sayur lodeh. Ah! lodeh? inikah bentuk nyata dari sayuran tersebut? aku pikir akan lebih kental dengan santan dan berkuah cabai. Saat pertama kali saat mencobanya rasanya hambar. Namun akhirnya aku paksakan untuk mencobanya. Ditengah awal yang sangat canggung ini, aku tidak berani mengeluh, lagipula hal ini dilakukan untuk menghemat anggaran yang baru dimulai di pagi hari ini.

Selesai itu kelompok bergerak ke dalam rumah. Kami memulai rapat di ruang tengah sebagai rutinitas awal yang akan kami jalani selama KKN. Setiap pagi, setiap hari jam 9-an kita dijadwalkan selalu untuk bertemu di Rumah Satu untuk sarapan dan rapat. Begitu pula setiap jam 9 malam.

Lapak pun digelar, sebuah karpet anyaman plastik menjadi alas bagi kami semua untuk duduk. Yang lain ada di atas kursi. Burhan membuka majelis.

“Yah teman-teman, Assalamu’alaikum Wr. Wb. …”

Rapat berjalan lancar sambil berceloteh dan bersenda gurau, “Kita serius tapi santai” ujarnya saat ditengah rapat yang riuh rendah oleh celotehan Indra dan anak-anak lain. Hasil rapat menerangkan tugas kami dan pembagian kelompok. Ternyata kita tidak seluruhnya berkeliling desa, desa dibagi menjadi dusun, dan di Desa Nagrak ini terdapat 4 Dusun. Kami akan dibagi 4 kelompok terdiri dari 5 orang. Aku berada di kelompok dusun Jemo bersama Hakim, Denny, dan Citra. Rencananya kami akan berkumpul lagi sore untuk membahas hasil observasi kami.

Kami membubarkan diri dan memenuhi jadwal kami untuk memberitahukan keberadaan kami kepada warga.

KKN belum 2 hari lewat, pucuk-pucuk gosip pun mulai meramaikan suasana akrab untuk mendekatkan diri. Tak lain dan tak bukan sasarannya ialah Pak Koordes dan Ibu Negara kami, selain mereka merupakan figur yang paling akrab karena jabatan mereka yang penting ditambah dengan lawan gender. Kloplah cerita cinta ala bos eksekutif dengan sekretarisnya, sekedar affair dalam memenuhi ruang kosong ditinggal pacar masing-masing di ujung pusat kota.

"Ciee… ciee" ujarku saat mengambil foto ala paparazzi mendapat momen intim yang tepat untuk sampul depan koran panas yang akan terbit kapan waktu.

#DUSUN JEMO#

Aku dan kelompok yang sudah dibentuk berjalan menuju dusun kami. Hakim menjadi pemimpin jalan. Aku mengekor dibelakang. Suasana bagiku masih canggung, untungnya aku ditemani Citra. Dia terlihat alim dan sopan dengan balutan kerudung berwarna merah muda. Setiba di daerah Dusun Jemo, aku disuruh Hakim untuk mulai mengambil gambar.

“Cepet! Tuh ambil” tegasnya memaksa saat kami melihat ada yang sedang bekerja memasang listrik. Namun aku masih roaming dan tetapi linglung sampai kami pun berlalu. Akhirnya Hakim sendiri yang mengambil gambar.

Kami mendaki melewati jalan beraspal yang sudah banyak berlubang. Walaupun namanya desa tetapi aku melihat jalan yang lebar dan beberapa rumah bagus dengan pagar. Sayang sekali, pengaruh individualitas perkotaan mulai terasa dengan adanya bangunan yang dipagari itu.

Ternyata desa ini tidak tertinggal juga oleh sentuhan pembangunan, dana 25 juta mengalir untuk membangun posyandu ini. Memang antara swadaya dan bantuan terlihat timpang.

Kami memotret puskesmas dan masjid yang ada. Menurut hasil rapat tadi pagi, kami akan mendatangi setiap masjid untuk memberitahukan keberadaan kami pada setiap desa. Forum yang ada dibentuk di masjid sebagai sarana yang tepat untuk mensosialisasikan diri kepada masyakarakat desa. Aku membayangkan bahwa nanti maghrib kami akan memukul beduk dan melihat anak-anak berlarian ke masjid untuk belajar ngaji.

Tiba-tiba aku melihat diufuk langit, terbang seekor burung. Bukan burung biasa, burung tersebut sangat jauh diatas namun terlihat jelas. Tidak salah kalau ukurannya pasti besar, mungkin itu burung elang. Sangat besar sekali sepertinya, aku sangat bergembira melihat alam disini masih terjaga sebagian untuk alam liar.

Selain burung, aku juga melihat gunung yang menjadi pusat kehidupan masyarakat disini. Itulah gunung tampomas. Seketika aku de javu. Inilah gunung yang kulihat dalam mimpiku. Gunung tempat aku hiking dengan Asa melewati sawah dan gubuk jerami. Inilah mungkin arti mimpiku. Aku akan berada di sebuah desa dengan gunung dan teman-teman yang bersahaja sama seperti dia.  Sepertinya memang benar aku mempunyai indra keenam.

Kami pun berfoto berlatarkan gunung itu.

Aku bertanya penasaran saat kami berada dalam persimpangan.

"Kalau lurus kita kemana tuh? kayaknya ada sawah. Pasti bagus pemadangannya"

"Disitu gak ada apa-apa, cuman sawah" jawab Hakim dan mengingatkan kami untuk fokus dalam tugas observasi harian perdana.

Kemudian kami melanjutkan langkah, dan berkenalan dengan warga sekitar. Denny merupakan maskot kami. Dia tampan rupawan, putih, badannya tegap berisi. Pasti tak akan ada model potongan begini di desa. Sangat ampuh menarik mata ibu-ibu untuk berpaling padanya sebentar dan memberitahukan kedatangan kami ke desa, ia tersenyum ramah pada mereka yang berada didepan rumah dan teras. Ah! Syukurlah aku tidak perlu ikut tersenyum dan melambaikan tangan, hal yang sangat merepotkan.

Kami sampai pada perbatasan. Sebuah tugu kecil yang luput dari pandanganku menjadi batasan Desa Nagrak dan Panyindangan. Kami mengambil gambar perbatasan itu. Sangat rendah dan tersembunyi dibalik semak belukar, bahkan tulisannya pun sudah hilang dimakan waktu. Setelah berjalan agak jauh lagi. Kami pun beranjak pulang.

#FEN FEN DAN SAKADANG SINGA#

Akan kuperkenalkan lagi seseorang yang aku hapal sehari setelah kami tiba di Desa Nagrak ini. Dialah Fen Fen Fenda Florena. Dipanggil Fen Fen, dia orang yang terlihat alim. Pakaian yang ia kenakan lebih kepada baju koko, pada saat-saat formal, Namun dia bisa terlihat santai dengan kaos orange namun dengan celana kain.

Mendapat manusia pilihan Allah seperti ini ditengah-tengah kami merupakan anugerah sekaligus ujian bagiku. Dia memang alim namun sangat idealis dan tidak moderat pada lawan idealismenya, pembawaannya berbeda dengan Asa dan Fadhil, beliau lebih terlihat seperti Amel dalam rupa adam. Tergelitik aku padanya.

Tak dapat dipungkiri lantunan ayat suci yang dilantunkan Fen Fen sangat merdu ditelinga. Aku terhanyut dan terharu dibawanya. Tadarusnya terdengar kala kami berkumpul sehabis shalat maghrib berjamaah bersama bapak-bapak penunggu masjid.Terlebih lagi dengan Pak Koordes, dia sangat fokus dan meresapi dalam-dalam setiap untaian dakwah yang mengalir dari dai muda yang baru kukenal. Namun sebenarnya aku cukup mengantuk dan beberapa kali ditegur agar mengahargai Fen Fen dan juga masyarakat desa yang terdiri dari Bapak-bapak yang rajin dhalat maghrib berjamaah.

Aha!! QUIZ TIME

Tebak, berapa kalikah Abo tertangkap kamera saat sedang tertidur?

Banyak loh sodara-sodara :D aku juga baru sadar ternyata sering sekali Abo tertidur ditengah situasi apapun, dalam kondisi bagaimanapun. Inilah kali pertama dia tertangkap kamrea sedang asik ngacai!

Fen fen lalu bercerita tentang sebuah fable yang biasa aku baca dalam buku paket SD-SMP Basa Sunda. Cerita tentang Sakadang Kuya, Sakadang Kancil dan Sakadang-sakadang lainnya. Fiktif jenaka berlakon binatang-binatang yang bisa berbicara.

Malam itu dia bercerita memakai bahasa Sunda yang lemes pisan gak ketulungan artinya.

Tetapi aku mengerti inti ceritanya yaitu tentang seekor singa yang menjadi itik buruk rupa. Tak sadar bahwa dirinya adalah singa yang aumannya dapat membelah angkasa. Berbicara tentang potensi tersembunyi yang tertutupi oleh rasa malu dan sungkan. Mungkin itu juga cerminan diriku. Ito pernah berkata bahwa aku mempunyai sebuah bakat besar yang tersembunyi, begitu pula dengan guru ku saat aku masih SMA. Aku tidak mau repot berharap cemas menunggu kekuatan super yang tidak tahu bagaimana bentuknya. Mungkin memang aku masih berupa singa yang masih mengembik.

Bahasa Sunda asing dan pengalaman lain yang kudapat dari melihat orang lain. Membuatku bersandar sejenak menjadi pemain di balik layar. Aku belum tahu bagaimana dunia ini, namun aku bisa melihat semua dalam ruang lingkup yang lebih kecil. Teman-teman KKN ku adalah semesta sederhana dari keseluruhan manusia yang ada di muka bumi ini.

RUMAH SATU

Kami pulang menuju rumah Satu untuk makan malam. Sayur lodeh kini kembali menjadi penganan yang akan kami makan sebagai pengganti energi yang terkuras hari ini. Well, ini sisa lodeh tadi pagi yang masih sisa. Kuah yang asam dengan sayuran yang jarang aku santap. Tidak adanya daging yang tersedia pun membuatku kehilangan nafsu makan. Tapi mengingat kembali semuanya makan, aku pun tidak punya pilihan. Tidak ada warung makan juga disekitar sini untuk membeli sambal. Tidak ada rasa pedas dalam mulut menjadi makanan yang hambar. Namun suasana baru membuatku tidak banyak mengeluh dan tetap menikmati makanan yang ala kadarnya.

Salman kembali mengumpulkan mangkok dan akan mulai kembali shift cucinya hari itu. Salman adalah anak yang baik, teladan bagi semua mahasiswa-mahasiswa yang ada. Ingatlah bagaimana dia tetap bekerja mencuci piring menuju ruangan dapur belakang yang sangat menyeramkan dimalam hari seperti ini.

Kali ini Rapat kembali dibuka setelah selesai makan malam, lagi-lagi gosip cinta pun menyebar. kali ini tertangkap mereka tak sengaja berdekatan saat rapat. Padahal sih, manas-manasin aja. Udah tahu kok kalau mereka sedang membahas agenda yang penting tentang rapat, tetapi publik seperti kami menilai hal ini cukup untuk diangkat dan dijadikan tontonan menarik pengusir sepi dikala tidak ada TV dan hiburan yang bisa diamati. Kami membuatnya sendiri.

Saat rapat, ada duduk sambil menyulut rokok.

"Permisi maaf yah, ngerokok" ujar Genta sambil membuka pintu. Sayang walau pintu dibuka pun, gak ada angin yang masuk. Benar-benar aku merasa gerah.

Ya Tuhan! Rokok… baru kali itulah aku tersadar dan sempat lupa bahwa orang-orang seumuran kami tidak akan asing dengan barang satu ini. Seketika aku melihat kawanan ini berubah menjadi forum pria dewasa. Malam itupun kembali ramai.

04 3 / 2012

Bus mulai berjalan, rodanya mulai berputar.

Setelah melihat pemandangan lucu tersebut aku berpikir bahwa ‘It is a great start’. Aku akan menjalani hidup antah berantah yang cemerlang. Suasana desa yang ku idam-idamkan. Jalanan utama yang sepi, pesantren yang damai, dan kami menginap disana. Mungkinkah kami akan diajak tadarus bersama? Bagusnya, hal itu akan memupuk kembali imanku yang layu dan melancarkan kembali bacaan Iqro-ku.

Apa yang kuidamkan dalam suasana KKN kali ini bercitrakan nuansa ramai. Aku akan mandi dekat empang atau sawah dengan udara terbuka. Aku pernah ingat seseorang angkatan 2007 bercerita bahwa temannya berkubang diatas empang untuk buang air besar. Hahaha… sejorok itukah desaku nanti? Ataukah aku harus mengangkut air setiap kali aku akan mandi? Aku sangat bersemangat.

Rumah tinggal yang kubayangkan ialah rumah besar dengan furniture yang seadanya kecuali mesin cuci, dispenser, kamar mandi yang airnya kadang ngadat, juga beberapa sofa di ruang tamu yang tidak mempunyai sekat dengan ruang keluarga. Kami semua akan tinggal disana serentak. Tetapi kata Burhan hal tersebut tidak mungkin, selain rumah yang akan kami dapat itu kecil. Kami harus berpisah untuk tinggal bersama. Dan aku rencananya akan tinggal bersama para perempuan.

Tahukah kalian? Perempuan di kelompok KKN kami hanyalah 4 orang saja. Aku tidak tahu siapa saja mereka. Yang kutahu hanya tiga orang. Dan mereka datang saat rapat di perpustakaan hukum kala kami berencana untuk survey menuju tempat KKN.

Beberapa minggu sebelumnya di perpustakaan hukum.

“Maaf ya kita telat” ujar salah satu dari mereka saat kami kumpul.

Gaya mereka sungguh necis, tidak terlihat bahwa mereka kuliah disudut luar kota Bandung. Keterlambatan mereka dapat dipahami. Jatinangor adalah sebuah kawasan ujung dunia yang belum terjamah tangan-tangan manusia dengan jalur tunggal yang menghidupi rumah-rumah kawasan sekelilingnya. Wajar kalau mereka kesini lama.

“Sekarang kita mau membahas tentang survey di lokasi, siapa saja yang punya kendaraan yang bisa dipakai ?”

Kami berunding, begitu juga dengan cewek-cewek itu.

“Mobil elu dipake gak?” desis suara mereka terdengar  dalam diskusi gerombolan mereka sendiri dan akhirnya mereka berkesimpulan, “Yah, insya Allah bisa kalau enggak ada rencana mah”

Rapat selesai dan kami segera mensurvey lokasi. Sayangnya aku ketinggalan pada hari H survey, aku tiba di Jatinangor dengan tangan kosong, aku gagal melihat bagaimana kondisi tempat yang akan kutinggali. Tak apalah! Aku akan bersabar, makin penasaran makin bagus. Kudengar mereka disana sempat mengalami masalah jalan. Salah satu mobil sempat terperosok atau menabrak pagar atau apalah. Tetapi untunglah bukan kecelakaan dalam kecepatan tinggi. Hanya menyenggol saat mengemudi pelan saja.

Suara si Komeng didalam bus makin kencang terdengar. Indra ini memang orangnya kocak abis dan gak bisa diam. Semuanya dikomentari. Kami sempat berpapasan dengan bus lain yang masih parkir di jalan kampus ketika bus kami hendak berangkat duluan. Sikap kekanak-kanakan mahasiswa muncul. Ada saja gelagat yang terekam dalam mata saat jendela bus kami berpapasan. Mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang ada diseberang. Padahal sama-sama gak kenal.

Aku sempat melihat sebuah elf, katanya bus itu menuju Subang. Langsung sendiri menuju desanya. Enak sekali, tidak perlu bersempit-sempit dan menunggu kawanan desa lain turun.

Didalam bis aku kehabisan napas mendengar lelucon Indra. Terus menerus aku tertawa mendengar omongannya yang aneh-aneh. Seseorang yang ada di barisan-barisan belakang berkata “Biarin aja, nanti juga diam sendiri”. Memang aku tidak terlalu menggubris omongannya. Tetapi saat kami berhenti tertawa kala bahannya sudah habis, kami malu sekali. Yang berbicara waktu itu Genta,  dia bercerita padaku tentang hal itu.

Perjalanan yang melelahkan sekali, aku melihat banyak sekali pemandangan saat perjalanan. Menyusuri lembah yang memikat dengan pepohonan, sawah yang luas di Sumedang, sambil mencari-cari dimana letak Gunung Tampomas berada. Kadang aku duduk dan mengetik sms sesekali untuk membunuh waktu.

Mataku kembali awas saat kami berbelok menuju pertigaan Conggeang, jalan mulai berlubang dan tidak rata. Aku melihat sekeliling mencari bentuk-bentuk modern peradaban. Bahkan didaerah yang aku anggap terpencil ini ada disewakan lapangan futsal dengan rumput sintetis yang baru dibangun. Alangkah senangnya kami jika bermain futsal disana kalau tidak terlalu jauh. Sayangnya memang sangat jauh.

Kami melewati kebun salak yang luas, sangat panjang dan aku melihat sebuah kelompok berada ditepi jalan. Kami menertawainya. Mereka seperti anak domba yang tersesat, ditengah kebun salak tanpa penerangan  dan  tetangga yang berdekatan. Entah bagaimana mereka melewati malam hari yang gelap sendirian.

Bus mulai mendekat dengan tujuan, jalan mulai menyempit dan rumah-rumah bergenteng makin merapat. Hari diluar tambah panas karena matahari mulai meninggi, aku baru sadar bahwa hari belum melewati siang. Banyak sekali cerita namun ternyata waktu berjalan lambat.

Bus tiba disebuah tempat, berkumpul dengan bus yang lainnya. Mahasiswa Unpad kini disambut oleh kepala camat Buah Dua. Aku enggan untuk melangkah keluar bus, bus ini enak! Adem.. biarlah aku menunggu disini sementara yang lain berkumpul di kantor camat. Tetapi mengingat sikap, aku turun dan menyiapkan jas almamater dengan topi sebagai seragam kami.

Kantor Kecamatan

Sebelum ke kantor camat, aku ke kamar mandi didekat masjid dan mencoba menikmati airnya. Aku menemui Salman disana dan Fenfen. Mereka masih begitu polos didepan mataku. Oh ya, aku tidak akan melupakan pintu yang tidak bisa ditutup karena pintunya jebol disalah satu kamar mandi.

Kami turun dan berkumpul sebentar, aku melihat wajah-wajah asing yang akan menjadi kawan berkumpul selama satu bulan ini. Dalam hati aku berpikir, apakah aku akan mengenal mereka nanti? Haruskah aku memperkenalkan diri dan bertanya satu per satu kepada mereka? Namun kuputuskan untuk diam dan melihat saja.

Mahasiswa Unpad serentak kemudian masuk menuju kantor camat, di dalam sana dipersiapkan kursi bagi kami dan bagi para pejabat. Aku keluar sebentar dan mencoba menikmati udara pedesaan yang sebenarnya sangat panas sembari melihat kolam yang berisi red fish. Disamping kantor ada lapangan bola dan juga sekolah dasar. Perutku tergelitik untuk membeli jajanan disana, pasti ada usus ayam, baso cilok dan lain-lain. Namun keinginanku buyar saat Ayat memergokiku dan mengajakku masuk.

“Ayo masuk!” ajaknya.

Kami duduk di bagian sayap kanan gedung, mataku kembali menerawang. Tak henti-hentinya aku menjelajah dan mematri semua pemandangan dimataku. Aku ingin mengingat semuanya setiap detail. Diagram-diagram, juga peta, yang akan aku gunakan sebagai bahan data untuk kerjaan akhir masa KKN ini nantinya.

Seseorang menyambut kami didepan, “Wilujeng sumping..” ucapnya berbahasa sunda. Ia menyapa kami dengan hangat, dan menerangkan tentang absennya pak camat. Aku menjadi berpikiran buruk tentang kepala camat, apakah mungkin beliau terlalu sibuk diluar kecamatannya dan tidak sempat menyambut kami. Berapa banyak kekayaannya? Begitulah saat aku mengetahui ada pejabat yang mangkir.

Mereka semua didepan berbahasa sunda. Jujur aku tidak bisa mengingat perkataan mereka, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

Pertemuan ditutup dengan wakil dari Unpad, oleh seorang pemuda kordes dari Desa Buah Dua sendiri. Kemudian kami kembali ke bis untuk menuju desa tempat tinggal kami.

Dalam bis hanya tinggal kami kumpulan Desa Nagrak. Bis memutar balik, dan aku baru tahu kalau kami sempat melewati desa kami. Aku sangat menyesal tidak memperhatikan jalan saat itu dan sibuk untuk tidur dan melamun pada sisa perjalanan.

Bus berhenti didepan kantor desa yang berada ditepi jalan. Udara panas kembali menyambut. Kami berdiri sempit dengan bus, mengangkat barang bawaan kami. Bus pun pergi dan kami ditinggal.

Kantor Kepala Desa

Suasana pun hening. Hanya udara yang menyengat yang membuat hawa pengap. Kami bahu membahu membawa barang bawaan masing-masing naik ke teras kecil didepan kantor desa tersebut. Lalu kami disambut masuk.

“Wilujeng sumping…” sapa pejabat desa yang masing asing kukenal. Aku masuk kedalam dan duduk pada kursi-kursi kayu yang sangat familiar aku temui di bangku sekolah dasar.

Bangunan Kantor Desa Nagrak amat sangat sederhana. Atapnya yang beranyaman bambu membuatku miris dengan pembangunan desa ini. Adalah minimarket terdekat disini? Kemana aku harus pergi kalau-kalau aku bosan dan tidak bertemu apa-apa. Aku melihat pemandangan dari balik pintu dan melihat jalanan kosong dengan sinar matahari yang terik. Lalu aku melihat melalui jendela, sebuah rumah sederhana dengan teras dari tanah yang lapang ditumbuhi pohon. Inilah nuansa desa yang sebenarnya, aku berpikiran sejenak, memandangi rumah itu dan menebak-nebak sanitasinya. Apakah dia punya kamar mandi sendiri?  Apakah belakang rumahnya hutan? Semua aku benamkan dalam pikiranku dan berusaha menikmati setiap detik dengan menahan mencari hal baru. Biarlah hal baru itu datang dengan sendirinya.

“Kami punya masalah…” tiba-tiba obrolan Pak Kepala Desa didepan mengagetkanku. Aku berpaling seketika. “Rumah yang ada dipesantren gak bisa dipakai, karena sedang dalam perbaikan. Jadi kalian perlu rumah lain.”

 Burhan terdengar resah atas pemberitahuan mendadak tersebut. Suasana cukup berisik dengan suara-suara rendah yang berbicara pada teman disebelahnya. Sedangkan aku duduk dan merasa sendiri ditengah karena belum kenal siapa-siapa.

Cukup lama kami terdampar di kantor kepala desa menunggu jawaban pasti akan tempat tinggal. Burhan dan anggota dari kami yang lain mengecek rumah yang disarankan oleh Pak Kepala Desa untuk ditempati. Akhirnya dia pasrah dan merelakan tawaran yang ada. Salah satu rumah, yaitu rumah yang dekat pesantren akan diganti dengan rumah yang lain. Sedangkan rumah yang satunya lagi masih tetap dan tidak ada perubahan.

“Gimana dengan rumah Pak X? sudah bisa ditempati?” Tanya Pak Kepala Desa kepada pejabat desanya. “Iya bisa..” katanya.

Segera kami berangkat dan melihat rumah kedua tersebut. Kami melewati Polsek Buah dua dan memasuki gang kecil yang berada disampingnya. Disitulah ada tanah belakang yang luas dengan 2 rumah yang berdiri dibelakang polsek.

Rumah Dua

Kami masuk dan segera membuka pintunya.

Astaga.. dalam hatiku

Kosong sekali!! Benar-benar rumah yang tidak ada furniture sedikitpun!! Aku sempat de javu saat melihatnya. Aku pernah bermimpi masuk kesana dan tidur dengan kasur lipatku yang berwarna hijau di ruang tamu depan. Itulah hal yang sama yang aku pikirkan akan terjadi.

Lantai yang dingin, ruangan yang cukup luas. Aku kebingungan karena aku tidak membawa kasur ke Nagrak. Dan butuh waktu untuk meminta ke Bandung, itupun kalau ada. Aku meletakkan barang pada salah satu kamar dan berharap aku akan tidur dikamar ini.

Banyak yang mengeluh saat itu. Tentu saja, fasilitasnya sangat minimal. Hampir tidak ada, hanya tempat berteduh saja.

Tiba-tiba ada yang memanggil kami dari luar, seorang penduduk memberikan kami selembar tikar. Ah! Tikar! Betapa terharunya aku melihat kebaikan penduduk desa ini. Mungkin setelah ini akan ada yang membawa rantang makanan dan televisi.

Lain halnya saat aku tiba di rumah yang pertama.

Ya Tuhan! Ada TV, Sofa, Kulkas, Tirai, Lemari, dan kursi… apalagi coba yang kurang? Benar-benar aku ingin pindah ke rumah ini. Rumah yang kedua sangat dingin dan sepi perabotan. Disini aku bisa bersantai dan menonton televisi.

Dzuhur telah tiba, saatnya kami jumatan. Aku hampir saja lupa akan jumatan dan berpikir bahwa hari ini ialah hari biasa. Aku mengikuti rombongan dan tiba didekat polsek dan kantor kepala desa. Disitu ternyata ada masjid. Wah! Dekat sekali rumah dua dengan masjid.

Aku masuk kedalamnya dan berada di bagian kiri masjid. Kembali aku menikmati hawa pedesaan yang hangat, masjid yang tidak mewah, sederhana namun menenangkan. Aku akan sering menghabiskan waktu disini.

Khatib mulai berkhutbah, sayang beliau memakai bahasa Sunda. Aku akan menyesuaikan diri dengan bahasa Ibu disini. Rumah yang terasa jauh membuatku tenang dan damai. Tidak ada lagi kegiatan pergi ke kampus, atau jalanan padat menuju sekolah. Hanya duduk disini ditengah kerumunan warga yang tidak dikenal, di Desa Nagrak.

Saat imam shalat dan melantunkan ayat suci juga unik. “Waladholin…” dengan nada nyunda. Aku tidak bisa mempraktekkannya, dan sudah hilang bagaimana suaranya didalam kepalaku. Namun terasa dalam ingatanku bahwa nadanya itu berbeda, sangat sunda sekali. Aku pernah ingat tentang ucapannya bagaimana ayat suci harus dilantunkan dengan lafaz yang betul, tidak dengan mengikuti lidah orang sunda seperti Fa menjadi Pa. Hal yang umum terjadi.

Selesai Jumatan, kami berkumpul siang itu dan mulai rapat perdana.

Kami memperkenalkan diri masing-masing. Rapat berjalan lancar dan kami banyak tertawa kembali. Siapa lagi yang menghangatkan kalau bukan si Indra. Banyak celotehan menggelitik yang muncul, hari itu sangat menyenangkan. Kami menghabiskan waktu mengobrol diruang tengah dengan candaan.

Saat semuanya bubar, aku melihat koper asing yang berada didekat TV.

“Eh koper siapa ini?” tanyaku.

Masing-masing memeriksa kopernya dan berkata tidak ada yang hilang. Aneh sekali. Koper tak bertuan. Sebuah koper besar dengan isi yang misterius semisterius pemiliknya. Usut punya usut, koper tersebut milik anak matematika yang kembali ke bandung setelah tiba di Nagrak dengan kami. Aku tidak mengenal siapa orangnya, namun yang aku tahu dia berperawakan besar dan gaya necis. Mungkinlah dia akan menjadi salah satu genk yang berdekatan dengan perempuan. Entah, mungkin seperti playboy.

Indra iseng mengecek kopernya dan berkata ada banyak makanan disana.

Tuhan.. aneh sekali orang ini. Satu koper diisi makanan.

Siang itu belum ada makanan tersedia. Kami makan lotek dengan nasi didepan rumah diseberang jalan.

Aku duduk dengan ayat dan salman juga efri dan kharis. Aku yakin kami akan cepat akrab disini, di pos kamling ini. Aku berkhayal kami akan menghabiskan waktu malam meronda dengan main kartu berselimut sarung dan tidur disana. Diantara pohon yang ridang. Makanan lotek yang akan aku habiskan selama sehari ini.

Aku tidak ingat, apalagi yang aku lakukan hari itu sampai malam. Tetapi aku sempat mengingat ayam ketek yang sangat indah yang berada didepan pos kampling juga aku baru tahu ada spot untuk internetan di warung internet tak jauh dari rumah satu dan berada diantara jarak rumah satu dan dua. Aku bisa melewatinya dengan lancar. Tetapi ada yang mengingatkan soal leletnya internet disini. Aku tidak bergeming, walau tidak ada toko grosir atau minimarket, selama ada internet. Aku aman.

Kami kembali menikmati malam dengan candaan dan tawa. 

“Ah… gak bisa nonton bola” keluh Burhan. Channel Indonesiar tidak bisa ditangkap siarannya di desa ini. Bulan ini dimulainya siaran La Liga. Dengan banyaknya pria di kelompok kami ini, sepertinya nuansa sepak bola akan menghangat didalam rumah.

Kembali di rumah dua yang sepi dan sangat bersih. Genta mulai mempersiapkan ancang-ancang. Ia prihatin dengan keadaan penghuni di rumah dua ini. Kami semua berkumpul ditengah rumah dan tidak mempergunakan kamar masing-masing. Semua kamar ditutup kecuali salah satu yang tidak bisa ditutup dan membuat kami seram.

Ia berkata “Sok nanti dibawa apa aja? Kasur? Selimut, lampu… ntar kita bikin rame disini. Biar penuh ama barang-barang” ujarnya bersemangat. Akupun senang dan berharap banyak dengan impian rumah ini penuh, lalu tidur dengan tenang.

Jam 2 Pagi di Rumah Dua.

Malam memang panjang, sayangnya tidurku malam itu terlalu singkat. Aku bangun sendirian ditengah teman-teman yang tertidur diruang tengah pada dini hari jam 2.

Ya Tuhan… kenapa?

Bila aku berusaha memejamkan mata, ini malam pertama aku menginap. Suara-suara bandel mungkin akan menyambut telingaku. Bila aku bangun, tentu bukan hanya sesuatu yang bisa kudengar, mungkin juga sesuatu akan kulihat!! 

Bagaimana ini??


Bersambung..

23 11 / 2011

Dingin sekali pagi diatas PUSDAI. Didalam mobil minibus, aku berdua dengan orang tua menunggu kawanan datang. Langit yang masih gelap dan jalanan yang hening mencoba menenangkanku yang tidak sabaran.

"Yoga lapar," imbuhku.

Sedikit aku menyesal datang terlalu pagi. Tidak makandan membawa ransel padat serta koper besar. Aku sempat pesimis dengan koper besar ini, kuharap tidak ada yang memperhatikan atau membicarakannya. Aku takut hal ini berlebihan. Sudahlah! memang waktunya sebulan bukan?.

"Coba cari makanan diluar" jawab Papa. eaa nulis di blog Papa, nanti juga terbiasa

Mataku meruncing mencari warung dari atas mobil. Fokusku tertuju pada sebuah gerobak yang mangkal di dekat gerbang. Dengan penuh harapan aku dikecewakan oleh penunggu yang absen, gerobak tak bertuan. Laparku semakin melilit, mataku sipit menyapit pemandangan sempit yang menggigit. Entah orangnya kemana!

Aku kembali dalam mobil, entah berapa lama kami menunggu. Diam.

Tiba-tiba sms datang, Gita sudah ada didepan gerbang. Buset? timbul darimana dia!? padahal aku mengamati jalanan itu menantikan siluet dia berjalan di sisi trotoar dari kejauhan bundaran tugu.

Segera aku turun dan mengambil bawaan di pintu belakang. Dengan topi gratisan dari Unpad berwarna belang putih orange. Aku melangkah pasti menyebrangi jalan kembali menuju pintu gerbang. Gita menyambutku,

"Wah!!…" astaga dia melihat koper itu. "… gaya" lanjutnya.

Entah bagaimana kesan dimatanya saat aku menyusuri jalan, mungkin bak sales man yang mempromosikan iklan jalan-jalan ke bangkok dengan paket murah.

Gita tidak sendiri, dia ditemani seseorang.

"Efri" sapanya. Aku tidak bisa melihat perawakannya saat itu, bagiku dia mungkin hanya ikut numpang bareng dengan Gita untuk berangkat bersama menuju Jatinangor.

"Dia bareng jalannya Ga ama gue. Kosannya deket"

"Oh.." aku tidak terlalu menanggapinya. Perutku lapar. "Burhan datangnya kapan?"

"Lagi dijalan katanya" jawab Gita.

"Burhan pake mobil avanza hitam" lanjut Efri. Hm… dia kenal Burhan. Mungkin karena sama-sama menimba ilmu di fakultas hukum.

Kami berbincang-bincang kecil selama menunggu. Dan mobil yang ditunggu pun tiba. Burhan datang dengan kakaknya. Setelah memasukkan barang ke bagasi, kami berangkat. Rute yang dilalui dari Pusdai menjemput kami menuju kiaracondong lalu keluar menembus By Pass.

Melihat jalanan yang dilewati adalah rute menuju rumahku, aku terkejut.

"Ini kan jalan ke rumah…"

"Yoga rumahnya disini?" tanya Burhan.

"Kalau gitu Ga, langsung jemput ke rumah aja harusnya kalau begitu" sahut Gita. Dalam hati aku mengiyakan perkataannya. Aku bisa makan dahulu dan bersantai, tidak perlu bangun saat seluruh kota masih tertidur.

Mobil berhenti dahulu di rumah kakaknya Burhan. Sepertinya beliau sudah menikah dan pindah untuk memulai kehidupan mandiri. Tak tahu adiknya pun sebenarnya sudah bertampang mapan untuk menikah. Masih kuliah.

Dari dalam rumah Burhan keluar membawa kotak yang tidak asing lagi dengan warna kuning emasnya. Donat mini Jco. “Ini buat makan”

Mataku seketika berbinar. Akhirnya makan juga. Dengan malu-malu tapi hoyong aku pun melihat tiap-tiap donat yang lezat itu. Aku belum makan! Aku lapar! seketika kupilih donat yang dapat meledakkan perut. Kutahu bahwa coklat akan meningkatkan energi. Saat orang yang baru kedinginan dianjurkan makan coklat. Kalau tidak salah.


Setelah memasukkan barang-barang, mobil pun kembali dinyalakan untuk meneruskan perjalanan menuju Jatinangor. Saat melewati By Pass aku termenung melihat pemandangan gunung yang mengelilingi kota Bandung. Ada satu titik di jalan Soekarno-Hatta ini yang memungkinkan kita melihat keseluruhan gunung yang melingkupi dari utara dan selatan. Aku melihat sebuah bukit besar di ujung Timur, itulah arah Sumedang.

Dibalik bukit itu, pikirku.

Sebelumnya aku pernah ke Jatinangor dan melihat bukit besar sebelah area kampus. Mungkin itulah bukit yang sama yang kulihat sekarang. Aku menyalakan MP4 dan menikmati jalanan yang sepi oleh pembicaraan. Terkena macet parah di suatu titik, aku lupa tetapi kami berada di belakang truk besar kala itu. Asapnya yang hebat menganggu pengemudi motor. Aku kasihan melihatnya.

"Wah macet nih" keluh si sopir. Maaf Kakaknya Burhan maksudnya :)

"Apalagi nanti yang dipertigaan, masih jauh" tukasku.

Obrolan kembali hangat dengan topik kemacetan. Gita katanya pernah ditilang didaerah pertigaan yang umum merupakan persimpangan menuju jalan tol. Ah ya, tentang mobilnya. Aku belum pernah melihatnya. Sebelum ke Nagrak, saat survei rencananya mobilnya ada kemungkinan dipakai. Entah keluhan apa yang terlontar tentang keadaan mobilnya sehingga niat tersebut urung dilaksanakan. STNK kalau tidak salah.

Tak diduga, daerah pertigaan sepi. Mobil berjalan lancar.

Namun tidak lama kami terjebak macet lain, entahlah bagaimana pikirku apakah rombongan kami akan tertinggal bus atau tidak. Tidak terpikir kembali. Dalam diam aku hanya memegang box JCo yang tersisa satu donat yang nanggung ada didalamnya.

Kami tiba di Jatinangor saat matahari mulai meninggi. Kami melihat-lihat tanda di bis sambil berjalan.

"Lihat tandanya" ujar Burhan.

Beruntungnya aku yang melihatnya dan kami pun menepi. Persis di depan jalan masuk Fakultas Peternakan. Jalanku tidak pernah jauh ternyata, tempat ini pernah kusinggahi saat SMA dahulu. Masjid yang sama, dan jalan menanjak yang tidak asing dimata.

Kami segera turun dan berpamitan pada Kakaknya Burhan. Aku menuruni jalan sambil membawa koper besar kembali. Selain itu donat JConya juga masih dibawa. Aku memasukkan koper dan mulai mengakrabkan diri dengan orang lain yang akan satu desa denganku. Ada sekelompok pemuda yang berkumpul didepan bisku. Segeralah aku ikut nimbrung. Pemuda berjaket dan badan cukup subur menarik perhatianku. Sepertinya dia tipe-tipe anak masjid yang alim, segera aku ingin mengetahui namanya.

"Salman…" ia balas memberikan nama saat aku menyapanya.

Burhan memberikan absen yang ada saat kami berkumpul dengan beberapa orang yang lain. Ah Salman, nama masjid di depan ITB. Jelas memang dia orang yang bisa dibilang alim bukan? saat aku mendengar namanya, yang terbayang ialah masjid sejuk dengan arsitektur yang terbuka, membebaskan angin keluar masuk mengalir dalam tiap lekuknya.

Ayat dan Kharis tiba beberapa saat kemudian. Aku sempat cemas dibuatnya. Kharis bercanda kala aku sms pada malam sebelumnya tentang tempat dia menginap.

"Hotel bintang lima lah, Ga" serunya percaya diri.

"Hotel mana?" Aku dengan bodohnya benar-benar percaya dengan tipuan kekanakannya itu.

"Ada-lah!"

Namun semua sirna saat ia membawa kerupuk melarat untuk menemani perjalanan kami ke Buah Dua. Saat itu aku belum mengenali Nagrak, yang kukenal ialah Buah Dua. Ternyata Nagrak adalah salah satu desa yang ada di kecamatan Buah Dua. Buah Dua lebih besar dan mempunyai banyak desa didalam wilayahnya.


"Apa ini?" mataku jatuh pada kresekan besar berisi kerupuk melarat itu.

"Kerupuk Melarat" jawabnya.

"Kenapa dibilang kerupuk melarat?"

"Karena bikinnya melarat, enggak pake minyak. Pake pasir"

Baiklah akan kupegang kata-kata itu.

"Enggak duduk didepan? ayo kedepan" ajakku.

"Enggak ah, duduk dibelakang aja" jawab Kharis. Dia kembali bercanda dalam riuhnya bersama Ayat. Aku duduk sebentar menikmati kursi belakang. Namun akhirnya pilihanku kembali jatuh untuk duduk lebih depan lagi.

Karena penasaran dengan anak-anak Akuntansi 2008 yang lain aku sempat melintasi lapangan merah untuk sekedar berjalan menunggu bis yang belum berangkat juga. Aku bertemu Eli dan Richi yang ternyata akan berangkat bersama dalam satu desa. Mereka akan berencana membuat program didesa tersebut. Aku melihat-lihat perlengkapan mereka dan kembali ke tempat busku.

Aku sempat melihat Danang melintas, karena terlalu cepat aku tidak sempat menyapa. Lebih ke enggan sebenarnya, ribut sekali suasananya.

Karena bus makin lama ditunggu makin meresahkan karena belum berangkat juga, Aku, Gita, dan beberapa orang-orang Nagrak yang saat itu belum ku kenal, mencari makanan. Kaki kami berhenti di tempat soto. Kami makan selama setengah jam disana karena tiba-tiba saat kami sedang makan. Mesin bus sudah mulai dipanaskan. Aku sempat melihat beberapa anak Akuntansi 2007 melintas saat makan soto.

Kami kembali masuk ke bis. Aku duduk ditengah, Gita sudah mengambil tempat disisi kaca. Aku mengalah. Tak lama kemudian Indra mulai berkoar-koar dan membuat lelucon. Aku sempat terpingkal-pingkal dengan aksinya. Disinilah aku mulai berinteraksi dengannya.

Bus mulai berangkat, mulut Indra tidak henti-hentinya berkomentar. Hahaha remnya sudah blong.

Saat bus mulai bergerak, aku melihat bus didepan kami ada yang janggal. Bemper belakangnya diikat oleh tali. Aku sempat menunjuk-nunjuk hal itu. Seseorang bapak-bapak mencoba menarik talinya agar putus. Kami tertawa melihat aksinya.

Haah… Perjalanan dimulai sekarang.

22 11 / 2011

OST Toradora - Startup! *klik dahulu soundtrack diatas ;)

Mari kita mulai Blog Kenangan ini dengan soundtrack yang bagus! Biasanya sebuah film akan dimulai dengan soundtrack yang mewakili keseluruhan cerita. Hal inilah yang menjadi awal bagi saya untuk menulis disini. Sambil memandangi foto ini, saya inginkan kalian coba terlebih dahulu bayangkan cerita yang akan dilalui oleh mereka semua.Perhatikan wajah mereka satu persatu dan kenalilah masing-masing wajah dengan baik. Karena masing-masing wajah ini akan bercerita dalam kisahnya, kisahku. Mohamad Yoga Pranata.

Bayangkan alam yang melatarbelakanginya, Nagrak punya surga tersembunyi, ia bagai Bromo ditengah gurun pasir hijau. Berdiri tegak diselimuti hamparan sutra padi-padi yang tumbuh segar. Alam yang menjadi panggung akan perubahan diriku dan pengetahuanku akan manusia dan hidup sederhana dalam tatanan sosial yang jauh dari kompleksitas individual.

Ia akan menjadi awalan pijakanku

dan mereka anak-anak manusia yang tinggal bersamaku

Merekalah salah satu bagian dari bab yang tertulis dalam biografi

Selamat datang di Nagrak. Gunung Tampomas akan membuka dirinya bercerita dalam keheningannya tentang kami.

21 11 / 2011

"I’m feel young again!! :D I’M FREE!!! SO LONG … Dipati Ukur, at least gue gak liat lo selama sebulan :D yippie!! yey! yey! it feels like I’m 15. Childish mode: on *Putar-putar keliling lapangan - guling-guling ditanah - jajan es krim sembarangan"

Status facebook saya, 13 Januari 2011

11 10 / 2011

"Tuhan, izinkan aku untuk sebulan ini menjadi orang desa yang polos, nrimo, kerja kuli, dan perlihatkanlah padaku hidup yang sederhana"

Status facebook saya, 7 Januari 2011